TANGSEL,– Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) kembali menggelar sayembara desain batik dalam rangka HUT Kota Tangsel 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Ramada by Wyndham, Jalan Raya Serpong No. 89, Cilenggang, Kecamatan Serpong, Senin (31/8/2026).
Memasuki penyelenggaraan kelima, sayembara desain batik Tangsel tahun ini mendapat antusiasme tinggi dari para pelaku kreatif dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari puluhan peserta yang mendaftar, sebanyak 49 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi. Setelah melalui proses kurasi, terpilih 10 finalis yang kemudian mempresentasikan karya mereka, termasuk filosofi, konsep desain, hingga makna yang terkandung dalam motif batik di hadapan dewan juri.
Para finalis berasal dari sejumlah daerah. Di antaranya Achmad Nur Kholis dari Jombang, Dadang Priyanta dari Tangerang Selatan, Gilang Muhammad Iqbal dari Bandung, Irwansyah Muhammad dari Siak, Riau, serta Jauzza Alya Waddha dari Cianjur.
Dalam proses penilaian, dewan juri tidak hanya melihat tampilan visual desain. Aspek filosofi, kedalaman makna, penggunaan warna, sejarah, hingga konsep keseluruhan batik turut menjadi pertimbangan.
Pilar, salah satu pihak yang terlibat dalam proses penjurian, mengatakan desain batik yang terpilih nantinya menjadi hak milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Menurutnya, desain tersebut diharapkan dapat digunakan secara luas oleh masyarakat sehingga dapat dikembangkan dan diproduksi untuk berbagai kebutuhan, termasuk pakaian dan produk fesyen lainnya.
“Desain batik Tangsel ini menjadi hak milik Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Nantinya masyarakat secara luas bisa memproduksi batik ini untuk diaplikasikan dalam berbagai fungsi, seperti pakaian dan lainnya,” ujar Pilar.
Ia menegaskan, karya yang terpilih merupakan hasil kreativitas peserta dan bukan hasil penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Karena itu, menurutnya, karya tersebut memiliki nilai kreativitas yang patut dihargai, terutama karena lahir dari gagasan dan proses kreatif para desainer.
“Batik ini bukan hasil AI. Ini merupakan buah karya seseorang yang patut dihargai dan memiliki nilai tinggi,” katanya.
Pilar menjelaskan, proses penjurian melibatkan sejumlah pihak dengan latar belakang berbeda. Salah satunya Musa dari Dekranasda pusat, serta unsur arsitek dan penggiat batik.
“Untuk penilaian desain batik, kita menghadirkan ahli sebagai juri. Penilaiannya mulai dari desain, filosofi, kedalaman makna, warna, sampai sejarah. Ini merupakan kegiatan yang kelima di Tangsel,” jelasnya.
Ia berharap ajang tersebut dapat menjadi ruang bagi desainer muda dan pelaku ekonomi kreatif untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Harapan saya, para desainer muda dan pelaku ekonomi bisa memanfaatkan momentum ini untuk berkreasi. Kami memberikan ruang sekaligus bentuk dukungan kepada pelaku ekonomi agar karya mereka dapat ditampilkan dan dikembangkan,” ungkap Pilar.
Melalui sayembara tersebut, Pemkot Tangsel berharap keberadaan batik tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya daerah, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif.
Pengembangan desain batik diharapkan dapat membuka peluang bagi pelaku usaha kriya dan fesyen, sekaligus memperkuat karakter budaya Kota Tangerang Selatan agar semakin dikenal dan mampu bersaing di tingkat nasional hingga global.
Maria






